2 0 1 5 [Note To My Self]

2015

1. Sleep earlier, rise earlier – get off your phone, set a time, create a habit.

2. Read more – and not just shitty fanfics. Read them too. But read. Read classics, read newspapers, read magazines, read fictional books, read joke books. Just read.

3. Stay away from people who do not deserve you – you are worth a lot more. Fuck their shitty opinions.

4. Eat well – and I don’t mean diet. I mean, eat well. Eat healthy, indulge every once in a while, but don’t go overboard. Eat for your health and not for society.

5. Create a plan that will be enjoyable for exercise and just do it – no fucking around this year

6. Study well – an hour every single day. Just one hour of uninterrupted, that’s all it will take. Apprendre et travail dans Francais – Je ne sais pas si ce est juste, pardon a mon francais suiveurs

7. Pamper yourself- give yourself one hour. One hour a week to unwind. To week to wash your hair, leave in your conditioner, soak your skin, have a face mask, shave your legs, light some candles, drink some tea, put on nice smelling lotion and comfy pajamas, put on some nice music and sleep well.

8. Put in an effort – doing your hair nicely, putting on that clean change of clothes and a simple coat of mascara has a lot of power to make you feel a hell of a lot better

9. Learn new VOCAB – because why the fuck not? Write down your new words that you learn while reading, use them in conversations; expand your vocab, because when you are sitting in the exam room, you’ll be glad you have.

10. Plan an outing once a week – have something to look forward to, to be excited for. Experience new things.

11. Set small goals – 3 small things to do every day, and don’t sleep till you have them done. 3×365 knowledgeable achievements will be worth it – trust me

12. Meet new people – don’t be so quick to judge.

13. Love yourself – I’m still trying to figure this one out, but I’m beginning to feel like I am worth it.

14. Art – practice makes perfect. Work, and when you can’t work, learn. Discover artists and their pieces, their inspirations, their style. Document it. There is always something to do to improve, whether it be through practice or research.
15. Stick to these goddamn goals. 2015 will be the shit if I make it.
me to myself (via ecartum)

And overall, I have to resign from this facatory, try many new experience in my hometown, Indonesia. I hope all is well. Wish me luck! 😁

Advertisements

Akan Segera Tiba

Akan Segera Tiba

Akan segera tiba hari-hari dimana seseorang dengan keimanannya dapat melembutkan hatiku. Seseorang yang dengan keteguhannya meruntuhkan tembok keegoisanku. Seorang lelaki yang ketulusnya tak dapat ku ingkari. Dimana dihari seterusnya, kekurangan dari masing-masing kami yang membuat selalu rindu. Kekurangannya indah dimataku, begitu pula yang ada padaku.
Seseorang yang aku butuhkan bukan hanya aku inginkan. Lelaki yang menbuatku jatuh cinta berkali-kali. Akulah tempatnya berkeluh kesah, berbagi air mata, tawa dan pelukan. Tidak ada yang lain.

Aku lah satu-satunya perempuan yang namanya ia sebut dalam ijab qobul sekali seumur hidupnya.

Dengannya aku merasa aman dimanapun. Sedingin apapun, aku selalu merasa hangat dalam dekapnya.

Di balik punggungnya nanti aku beribadah dan berdoa, dan diwaktu yang sama aku menjadi bagian dalam doa-doanya. Tangannyalah yang aku kecup setelah mengamini doa kami. Dan hanya keningku yang ia kecup.

Akulah nanti yang menjadi alasannya pulang, alasannya untuk tidak sering lembur, dan aku yang selalu ia ingat sekencang apapun godaannya diluar sana.

Dari rahimku nanti, akan lahir anak-anak sholeh dan lucu kami. Aku yang menjaga ketika ia sibuk bekerja, sedang ia yang akan mengajarkan anak kami untuk sholat dan mengaji.

dari : tanpapena.tumblr.com

PS: Semoga itu kamu 🙂

Sudah Siapkah Ketika Orang Tua Kita Berkata Jujur ?

Sudah Siapkah Ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Via: nadyaseptiani:

Hilman Rosyad Syihab

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,
“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.
Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.
“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.
“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”
“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.
“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.
“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.
“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”
Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”
Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.
Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”
Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?
Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.
Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.
Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga. [Rahmat Idris]

Smoga mnjadi bahan renungan bagi kita semua.

Semoga bermanfaat dan Salam Ukhuwah

Source: One Day One Juz 523

Kekuatan Opini Publik

Eddy Yehuda & rekan

Kekuatan Opini Publik
Eddy Yehuda, Drs.,M.S. <Eddy-Yehuda@YAHrapha.web.id>

Opini publik adalah pendapat sekumpulan orang mengenai sesuatu hal tertentu. Hal tertentu itu, bisa mengenai issue, produk, orang, lembaga, & lain sebagainya. Tentang issue, yang dimaksud adalah sesuatu persoalan atau pokok permasalahan atau kejadian yang hangat dibicarakan. Sesuatu persoalan atau yang hangat dibicarakan biasanya yang sedikitnya mengandung opini yang berlainan. Jika pendapat atau opini itu didukung oleh sebagian besar orang, Clyde L. King menyebut sebagai penilaian sosial, maka penilaian sosial itu merupakan opini publik. Sebab opini publik tersebut sudah merupakan sikap orang-orang mengenai sesuatu soal. Leonard Dubb menyatakan bahwa opini publik itu berhubungan dengan sikap manusia yaitu sikap pribadi maupun kelompok.
Negara dalam keadaan krisis kepercayaan seperti di Indonesia sekarang ini, opini publik mampu menempatkan kedudukan yang tinggi. Demonstrasi yang marak terjadi di kampus-kampus perguruan tinggi di Indonesia telah menempatkan begitu diseganinya publik kampus sehingga opini publik yang berasal dari kampus…

View original post 2,171 more words

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM POLITIK

Bung EL

Saat ini, rata-rata masyarakat dimanapun dia berada, mereka sadar bahwa kehidupan mereka dipengaruhi oleh pemerintah mereka, sehingga masyarakat berpikir bahwa mereka harus melibatkan diri dalam politik. Salah satu yang menyebabkan meningkatnya partisipasi politik yang terjadi belakangan ini adalah penerimaan secara global mengenai konsep popular sovereignity (kedaulatan populis/ kedaulatan rakyat) yang merupakan dasar dari kekuasaan politik yang legitimate. Sejak hampir semua rezim di semua negara mendasarkan kekuasaan mereka pada kedaulatan rakyat, menjadi sebuah hal yang lumrah ketika rakyat melibatkan diri dalam proses politik dengan menggunakan kedaulatan mereka. Bahkan negara-negara otoriter sekalipun berusaha untuk melibatkan rakyatnya dalam perpolitikan (tetapi tetap dalam skema yang dikontrol oleh pemerintahan otoritarian) dengan maksud untuk melegitimasi rezim, peraturan, dan kebijakan yang dibuat oleh rezim otoritarian tersebut.

coblosan cuyyy

TUJUAN-TUJUAN PARTISIPASI POLITIK
Keterlibatan politik dapat terjadi dengan berbagai tujuan, diantaranya adalah memberikan rakyat/warga negara kesempatan untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan. Hal ini tentu saja merupakan tujuan utama dari partisipasi politik…

View original post 2,695 more words

Florence, Antara Moral dan Ketidakbebasan

Media sosial memungkinkan setiap orang untuk berpendapat secara subyektif dan otonom. Ketika setiap orang dengan mudahnya dijadikan sebagai narasumber dan penghasil informasi, sesungguhnya media sosial telah membebaskan kita semua. Seperti yang agak lama ini dilakukan oleh Florence Sihombing, mahasiswi S-2 UGM karena ketidakpuasannya dengan pelayanan SPBU di Lempuyangan, Jogja dan malah menyerobot di antrian yang tidak seharusnya sehingga membuat dia berang dan memaki kota Jogja dari akun Path pribadinya, kemudian di Twitter dan laman Facebooknya. Ujung dari kasus ini membawa Flo dijerat pasal 27 UU ITE dan dikaitkan dengan pasal 310 & 311 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penghinaan atau menista dan lmenyerang kehormatan serta mencemarkan.

Pengamat Hukum Pidana, Adi Hamzah menilai penyelesaian kasus Flo sampai pidana ini tidak tepat, menurutnya justru kasus ini menjadi bentuk pembunuhan demokrasi. Sedangkan menurut pemikiran seorang filsuf perempuan, Hannah Arendt: “Kemampuan berdialog dengan diri sendiri dan mempertimbnagkan hati nurani sebelum berucap dan bertindak adalah ciri kebebasan manusia. Ini penting agar kita mampu untuk senantiasa menenggang perasaan orang lain dan tidak bertindak naluriah di ruang publik. Kemampuan ini juga penting agar kita bersikap kritis terhadap praktik yang sudah dianggap lazim, dilakukan banyak orang, namun sesungguhnya bermasalah secara moral.”

Dari kasus Flo bisa disimpulkan bahwa media sosial, Facebook, Twitter, Path bahkan Youtube sekalipun telah membawa perubahan secara revolusioner yang memungkinkan setiap orang untuk berpendapat secara langsung tentang apa saja di manapun. Namun di sisi lain kasus Flo juga menunjukkan ketidakbebasan pengguna media sosial, bukan karena dia dijerat hukum, namun karena dia masih ikut-ikutan menggunakan media sosial untuk memaki-maki pihak terntentu. Sejauh dia tidak mampu menguasai diri dan menimbang akibat dari suatu tindakan, dia tidak dikatakan bebas. Di jaman yang semakin modern ini, masyarakat Indonesia dan dunia dituntut untuk lebih kritis mengunakan media sosial.