Florence, Antara Moral dan Ketidakbebasan

Media sosial memungkinkan setiap orang untuk berpendapat secara subyektif dan otonom. Ketika setiap orang dengan mudahnya dijadikan sebagai narasumber dan penghasil informasi, sesungguhnya media sosial telah membebaskan kita semua. Seperti yang agak lama ini dilakukan oleh Florence Sihombing, mahasiswi S-2 UGM karena ketidakpuasannya dengan pelayanan SPBU di Lempuyangan, Jogja dan malah menyerobot di antrian yang tidak seharusnya sehingga membuat dia berang dan memaki kota Jogja dari akun Path pribadinya, kemudian di Twitter dan laman Facebooknya. Ujung dari kasus ini membawa Flo dijerat pasal 27 UU ITE dan dikaitkan dengan pasal 310 & 311 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penghinaan atau menista dan lmenyerang kehormatan serta mencemarkan.

Pengamat Hukum Pidana, Adi Hamzah menilai penyelesaian kasus Flo sampai pidana ini tidak tepat, menurutnya justru kasus ini menjadi bentuk pembunuhan demokrasi. Sedangkan menurut pemikiran seorang filsuf perempuan, Hannah Arendt: “Kemampuan berdialog dengan diri sendiri dan mempertimbnagkan hati nurani sebelum berucap dan bertindak adalah ciri kebebasan manusia. Ini penting agar kita mampu untuk senantiasa menenggang perasaan orang lain dan tidak bertindak naluriah di ruang publik. Kemampuan ini juga penting agar kita bersikap kritis terhadap praktik yang sudah dianggap lazim, dilakukan banyak orang, namun sesungguhnya bermasalah secara moral.”

Dari kasus Flo bisa disimpulkan bahwa media sosial, Facebook, Twitter, Path bahkan Youtube sekalipun telah membawa perubahan secara revolusioner yang memungkinkan setiap orang untuk berpendapat secara langsung tentang apa saja di manapun. Namun di sisi lain kasus Flo juga menunjukkan ketidakbebasan pengguna media sosial, bukan karena dia dijerat hukum, namun karena dia masih ikut-ikutan menggunakan media sosial untuk memaki-maki pihak terntentu. Sejauh dia tidak mampu menguasai diri dan menimbang akibat dari suatu tindakan, dia tidak dikatakan bebas. Di jaman yang semakin modern ini, masyarakat Indonesia dan dunia dituntut untuk lebih kritis mengunakan media sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s