Aku memilih tuk…

Aku memilih tuk diam saat ianya kan menjadi emas. Berjanji pada hati tuk lebih bisa mengendalikan gejolak di dalamnya agar kelak keadaan bisa lebih baik. Aku bukan saja seorang yang kamu pahami selama ini. Mungkin hati ini terlalu dalam, terlalu penuh mengharapkanmu. Cinta platonis, mereka menyebutnya.
Kemudian waktu berjalan begitu cepat, terasa cepat sekali sampai hari ini berhenti pada satu titik dimana hati kembali bertanya-tanya penuh keraguan. Apakah memang hati seorang lelaki sepertimu tidak peka. Ataukah hatiku yang terlalu mendramatisir sehingga gampang terluka? Oh Dear, aku marah pada hati.. kenapa engkau mudah sekali terluka. Hati menjawab: aku sudah terlalu dalam mencintainya, apakah patut jika yang platonis ini dilukai dengan gombalan mukiyo?
Ah, tentunya percakapan ini akan menjadi lebih lucu kalau dilanjutkan.
Hei, Hati, berhati-hatilah mempercayai, berhati-hatilah menyayangi, berhati-hatilah mencintai, jangan terlalu meramunya dengan pekat nanti kamu yg kecewa sendiri jika ianya tidak enak di ujung hari. Jangan mewek, Hati-hati yaa :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s