Jogja, Kerinduan Yang Begitu Dalam

Ketika hidup memberimu banyak pilihan, orang bilang 2,5 tahun itu terlalu singkat untuk perantauan untuk kemudian pulang ke kampung halaman, tapi bagiku itu sangat lama, begitu lama. Berkali-kali aku meyakinkan diriku, sudah saatnya aku pulang, meski hanya menengok sebentar lalu balik lagi ke sini, di perantauan. Mereka bilang pulang cuti itu hanya menghabiskan duit belaka. Oh God, kenapa selalu duit? Kuyakinkan pada diriku lagi, sampai berapa juta ringgit pun yang kau cari itu tidak pernah cukup. Pertanyaan selanjutnya, lalu kebahagiaan apa yang sebenarnya kau cari? Kerja siang-malam ditambah lembur tak kenal istirahat,  apa kamu sudah gila?! Akhirnya, dari kesemuanya yang carut-marut, perkataan Bapak beberapa waktu lalu di telefon menguatkan tekadku, “ngomah kangen kamu,Nduk”. No doubt, okay PULANG!
Kemudian rasanya seperti mimpi, KLIA LCCT ke Adisucipto bagaikan 2 dimensi dunia yang berbeda. Saya seperti dilempar dari peradaban yang serba mewah ke dunia yang simpel, sederhana, kusam dan tak beraturan. Kompleks. Jogja kini terlihat semakin tua, namun keramah-tamahannya tidak pudar, budayanya masih tercium dimana-mana. Saya haus akan jernih airnya, saya butuh udara sepoi-sepoinya, dan ingin lari-lari di sepanjang jalannya yang batako, tanah gambut dan aspal yang berlubang. Saya ingin mencicipi segala masakannya yang betah berlama-lama nempel di lidah saya, nyaman di dalam perut saya. Saya ingin memberi apa yang sewaktu dulu selalu saya minta. Saya ingin membahagiakan orang-orang yang dulu sampai sekarang membahagiakan saya. Saya ingin keliling jogja pake sepeda tua, Power Ranger Ijo, a hero from when i was 10 y.o. Saya rindu saat kugenjot pedal kemudian rantai-rantainya berputar menggerakkan ban.
Jadi perjalanan pesawat yang 2 jam lumayan lamanya-bikin-saya-bosan akhirnya berakhir dengan disambut gerimis di Bandara Adisucipto. Beberapa menit dari keluar pesawat, waktu dihabiskan dengan segala urusan check out sampai imigrasi, dan spesialnya oleh-oleh permen susu yg saya beli di LCCT beberapa jam yang lalu sempat disita karena disangka dadah (narkoba), pasrah ajalah tas saya dibongkar meski jengkel juga memakan waktu yang lumayan, ditambah cuma saya seorang yang digeledah *eh curhat* yaudah setelah basa-basi bapak-bapak petugas yang teliti itu melepaskan saya. Keluar dari ruangan panas tadi, saya makin pusing dihadang kerumunan penjemput, sampai diteriaki Mba saya. Widiih, saya pangling! haha, terus ditarik sampi ketemu Simbah, Bapak dan adek-adek yang ceriwis ajaib itu,😀 Alhamdulillah, setelah 2,5 tahun lamanya jauh di negeri orang, akhirnya saya bisa memeluk mereka satu-satu sampai tangisan haru. Ah, cemen mah :pKota Baru, Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s