Terburu buru

#Bening tirta muhammad

Kita terlalu terburu-buru membeli barang-barang sekunder dan tersier tanpa mau memutar otak untuk mencari substitusi

Kita terlalu terburu-buru memenuhi keranjang sampah dengan barang-barang yang masih bernilai dengan alasan sudah tidak terpakai lagi hari ini

Kita terlalu terburu-buru khawatir anak kita tidak tumbuh sehat dan cerdas lalu meminumkannya bermacam vitamin dan obat, kemudian anak kita pun tumbuh berbadan gemuk tidak alami

Kita terlalu terburu-buru menjatuhkan pilihan pada sebuah lagu dan bilang “ini lagu terbaik sepanjang masa,” kemudian kita menarik kembali kata-kata itu karena bosan setelah diputar berkali-kali

Kita terlalu terburu-buru membeli buku baru karena diskon atau cuci gudang tanpa mengingati buku-buku di rak dan lemari yang sering memanggil-manggil untuk dibaca dan ditiduri

**

Kita terlalu terburu-buru menjatuhkan pilihan tanpa berpikir panjang untung-rugi

Kita terlalu terburu-buru menuruti kemauan impulsif dan menunda pekerjaan yang telah lama menanti dan akhirnya mengecewakan orang lain lagi

Kita terlalu terburu-buru meningkatkan ekspektasi pada kesuksesan di fase awal, dan akhirnya kita kecewa dan menyalahkan teori-teori di buku yang telah kita beli

Kita terlalu terburu-buru melonggarkan ikat kepala lalu bersender di pelepah kelapa tanpa sadar rambut acak-acakan kita kejatuhan luing dan kaki kita pun disemuti

Kita terlalu terburu-buru nrimo atas nasib tanpa mencegah uap sampah masuk ke rongga dada anak-istri dan kutu busuk mengisapi darah mereka di malam hari

Kita terlalu terburu-buru memutuskan bahwa Tuhan tidak adil tanpa sempat melihat di sekitar bahwa masih banyak yang menderita dan digerogoti nasib lebih dari yang kita alami

Kita terlalu terburu-buru menghibur diri dan puas lebih awal untuk usaha yang belum maksimal dan berharap alam semesta akan berkonspirasi

 

***

Kita terlalu terburu-buru menegak secangkir kopi, merasa masih kuat menyambangi malam tanpa refleksi seharian siang sudah diapakan saja tubuh ini

Kita terlalu terburu-buru meraih sebatang rokok lagi berharap dapat tambahan inspirasi

Kita terlalu terburu-buru merasa mampu untuk meceritakan hal-hal besar padahal kita baru tahu sedikit, baru seibu jari

Kita terlalu terburu-buru merasa pantas mendapat apresiasi dan serta-merta menutup pintu kritisi karena sudah banyak menelan buku dan diajari teori

Kita terlalu terburu-buru minta didoakan oleh orang lain padahal kita belum tahu apa yang kita mau dan belum sempat berkonsultasi dengan hati kecil sendiri

Kita terlalu terburu-buru menuliskan sebuah destinasi dalam daftar mimpi kita, sekadar ikut-ikutan atau karena kekaguman, tanpa menimbang apakah sejalan dengan visi dan apakah kita masih punya cukup waktu untuk mimpi-mimpi yang sudah lama menunggu untuk direalisasi

 

****

Kita terlalu terburu-buru memejamkan mata padahal kita masih punya sedikit energi untuk membolak-balik catatan kehidupan, untuk kesan yang lebih terpatri di kepala, sebagai modal tambahan untuk esok pagi

Kita terlalu terburu-buru berharap mimpi indah dan berkelumun dalam selimut empuk yang masih bersama sisa dingin hujan sore hari tadi, tanpa sempat menutup hari dengan do’a-do’a agar Tuhan masih sudi memeluk kita yang akan sementara mati

Kita terlalu terburu-buru menyelesaikan raka’at atau kidung dan do’a kita, tanpa penghargaan pada tiap lafal yang terucap dan harapan yang terkandung di dalamnya, dengan dalih tuhan pasti mengerti

Kita terlalu terburu-buru tersungging dalam keta’atan dan kenikmatan, dan melupakan banyak perut yang harus dikasih makan, banyak tangan yang butuh diarahkan, dan banyak otak yang perlu diajari

Kita terlalu terburu-buru merasa cukup dengan usaha dan amal baik untuk bekal dibawa mati

Kita terlalu terburu-buru memilih memejamkan mata padahal masih ada tanda dan cahaya yang menunjukkan ke jalan ketenangan abadi

 

*****

Kita terlalu terburu-buru menjulurkan tangan untuk berkenalan tanpa berniat mengarahkan kemana ikatan ini akan dibawa waktu yang membersamai

Kita terlalu terburu-buru meluapkan ekspresi dan sering terlambat menyadari bahwa kita baru saja mempermalukan diri sendiri

Kita terlalu terburu-buru meningkatkan level intimasi dengan seorang lawan jenis tanpa memikirkan kepantasan menurut akal budi

Kita terlalu terburu-buru mengamini kebetulan-kebetulan kecil dan berandai-andai mungkinkah dia akan jadi milikku nanti

Kita terlalu terburu-buru mengikatkan hati pada sesuatu yang belum pasti dan capek mewanti-wanti kapankah giliranku didatangi

 

******

Kita terlalu terburu-buru menuliskan letupan-letupan ide instan tanpa mengawinkannya dengan berjuta pengalaman dan baris kata yang sudah ada di rak-rak berdebu tempat menyimpan memori, otak kanan dan kiri

Kita terlalu terburu-buru menentukan bunyi akhir di baris-baris puisi dan sibuk memilih-milih diksi, agar berima, agar indah bunyinya, tanpa membiarkan otak dan hati menyelesaikan produksi rasa dan ekspresi

Kita terlalu terburu-buru…

Saya terlalu terburu-buru… menuliskan semua yang mencuat di pikiran, menghapus yang tak perlu kemudian, serta menyudahi tulisan ini tanpa menyisihkan lebih banyak waktu untuk diskusi dan kontemplasi

Saya terlalu terburu-buru… memuat puisi ini disini tanpa menunggu untuk diasah lebih jauh lagi esok hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s