Hakikat Rasa Syukur [Part I]

Image

Sangat Kontras. Mereka WNI, Warga Negara Indonesia! Aku juga WNI! Kami sama – sama di negeri orang, di negeri jiran, di Malaysia. Namun dengan keadaan yang jauh berbeda. Aku bisa tidur dengan tumpukan bantal empuk, penerangan yang bisa kuatur sesukaku, bisa tidur sambil mendengarkan musik hasil download-an leptopku sambil sesekali mendengar syahdu suara hujan di luar jendela yang tak mampu menerobos dinding kokoh rumah tempat tinggalku.

Mereka, mungkin sebelum peristiwa kebakaran itu keadaan mereka lebih baik meski tidak jauh lebih baik dari sekarang. Orang – orang menyebutnya Rumah Kongsi/ Rumah Bedeng atau tempat tinggal sementara dalam setiap pembangunan proyek, mereka tinggal di situ. Aku tidak tahu – menahu soal ini, aku hanya sebatas tahu keadaan mereka sekarang. Speechless, prihatin, empati, sedih, semuanya jadi satu.

Inikah yang mereka sebut Indonesia? Indonesia tempatku dilahirkan. Indonesia tempatku habiskan masa kecil penuh perjuangan sampai aku punyai mimpi bermacam – macam. Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang begitu mempesona. Indonesia… Indonesia. Jadi teringat dengan ucapan –ucapan  orang sini soal Indonesia yang membuatku terguncang; ada yang bilang “budak Indon tu seharga sebungkus nasi lemak je la”, dan lain sebagainya. Apakah Indonesia semurah itu?

Mereka, para korban kebakaran itu, mereka para kuli bangunan, mereka para pahlawan devisa negara yang bergelimang pasir dan semen dengan peluh yang tak henti –hentinya mengucur. Di negeri orang mereka mengadu nasib, sama sepertiku –dengan berbagai problema yang kian meruncing setiap harinya, -dengan penghasilan secukupnya. Kadang berfikir: apa kabarmu, Indonesia Raya?

Berjuta – juta penduduk Indonesia mengadu nasib mencari nafkah di negeri orang. TKI! TKI sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, yang Cuma memenuhi pundi – pundi devisa negara nomor 2 setelah minyak dan gas. TKI yang hanya sebagai pelarian pemerintah dalam ketidakmampuannya menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warga negaranya. TKI dengan segala tetek – bengek persoalan mulai dari proses pemberangkatan smapai diempatkan di sector-sektornya: pungutan liar oleh sejumlah oknum –oknum tertentu, pengurangan gaji, pemerasan tenaga kerja oleh majikan yang bersangkuta, dsb.

Aku juga TKI, bekerja di sector pabrik elektronika. Sebut saja Western Digital Malaysia, pabrik bonafide yang memroduksi hardisk drive yang terkenal mahal dan berkualitas tinggi itu. Soal kelayakan hidup, aku jauh lebih baik, jauh lebih terawatt dari mereka para TKI yang bekerja di sector konstruksi/ bangunan itu. Aku ditempatkan di hostel, dengan segala fasilitas secukupnya, dengan sejumlah asuransi, dengan gaji yang lumayan –meski dengan jam kerja penuh bahkan over dan berbagai tekanan dari bosku, tapi tetap logis.

Aku juga masih bisa melanjutkan kuliahku di sini, masih bisa menenteng kamera prosumer –belagak fotografer amatiran yang gila dengan gambar jalanan Kuala Lumpur. Mbolang-mblayang ke sana ke mari kemudian berteduh di bawah kanopi café, menyesapi kopi pait sambil berselancar di dunia maya dengan leptop mungilku. Ngubek-ubek/ window shopping menghabiskan berates ringgit di shopping centre, menukarnya dengan brand –brand internasional sekelas Vincci, Mango, Sophie Martin. Namun tak jarang juga meringkuk di dalam hostel dengan semangkuk Maggie/ mie instan melototi televise saat duitku habis untuk dikirim ke Indonesia atau untuk bayar kuliah. But most of all, aku semestinya bersyukur.

Aku seharusnya bisa mensyukuri keadaanku, dengan lebih bersungguh – sungguh bekerja, serius dalam kuliah, dan terus menjaga komunikasi dengan keluarga di Indonesia –berbagi kabar bahwa aku selalu baik-baik saja di sini.

Jika Indonesia hanyalah sebuah nama untuk suatu negara di Asia Tenggara, sebuah nama dari negara tempatku dilahirkan, aku tetap akan menjunjungnya setinggi mungkin.

One thought on “Hakikat Rasa Syukur [Part I]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s