Cerita di Meja 53

Ya, ini hari Selasa, tanggal 12 Februari 2013.

Beberapa orang mengira saya telah berubah, menjadi apa yang tidak mereka sukai. Saya sendiri? saya masih merasa memiliki dan menjadi diri saya sendiri, saya masih yakin dengan jalan yang saya bentangkan lewat mimpi-mimpi yang mereka pikir gila, impossible dan yang ngga pernah mereka sangka sebelumnya.

Kemarin mereka menyebut saya terlalu ambisius, sekarang saya disebutnya berubah. Oh God, Mon Die! Saya merasa masih menghirup udara yang sama, euforia yang sama, dan jelas masih memperjuangkan mimpi-mimpi saya, taaappiiii ada aroma lain. Sudah beberapa minggu semenjak errr,, pertemuan itu. Aroma lain, aroma tentang legit kopi, tentang rokok. Iya, rokok. Saya telah jatuh hati.

Well, saya sudah bersumpah untuk tidak membiarkan ketololan ini berlanjut, membangun pagar-pagar buat hati saya. But, I lost control. Ada sesuatu yang tumbuh semakin liar, semakin tak terkendali dari dalam diri saya. His eye, yeppa, matanya terlalu jujur untuk menjelaskan bahwa tatapannya mampu membuat saya lumpuh seketika. Saya bego membiarkan ini semakin tumbuh. Bego? Tapi bukankah perasaan ini membuat aroma hidup saya harum lagi? Aromanya seperti Cocoa Cappucino, seperti Hazelnut White Coffe, seperti kopi, saya kecanduan! swear…

Kemudian berpikir, kalau saya tolol, bego membiarkan rasa ini berlanjut… apa saya tidak akan merasa lebih bego atau lebih tolol lagi jika tidak mengijinkan diri saya untuk bahagia?

Bahagia itu sederhana,

saat bisa tertawa bersamamu, saat saya merasa ada sesuatu dari diri kita yang bisa saling berkaitan, saling melengkapi. Chemistry!

Jadi saya membiarkan perasaan ini terus berlarut, melepasnya, biar mengalir entah ke mana. Karena saya masih ambigu terhadap kamu.

 

Tentang Meja 53

Saya baru tau ternyata kamu mempunyai kemampuan luar biasa untuk terus menumbuhkan perasaan ini semakin liar dan tumbuh terlalu besar. Kedatanganmu di hidup saya terlalu instan, tapi kamu seperti obat yang menyembuhkan luka lama. Mungkin Tuhan telah menyiapkan sepaket kamu sebagai sosok candu, Rasanya hangat. Seperti secangkir kopi.

Serius, di meja 53 saya sudah membulatkan tekad, untuk menghentikan pikiran-pikiran buruk tentang masa lalu. Saya memang belum jauh mengenalmu, tapi saya percaya, selama saya berpikir positif tentang kamu, saya percaya kamu.Itu saja, simpel.

Yaa, cuma ini sih cerita tentang meja 53 di Old Town Coffe, Bandar Sunway, Selangor Darul Ehsan, Malaysia.

PS: Je t’aime beaucoup ! :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s